2021-02-16 |  Lifestyle

TRIBUNNEWS.COM-Bubur merah putih menjadi salah satu santapan yang banyak dijumpai di berbagai perayaan di Jawa. Salah satunya adalah perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram (Muharram).

Bubur merah dan putih muncul sebagai persembahan di berbagai perayaan. –Menurut sejarawan Heri Priyatmoko, sesaji ini memang salah satunya. Tradisi merayakan atau menyapa orang Jawa. — “Sesaji adalah cara meminta keselamatan, ketaatan dan sesuatu yang menghalangi Gusti Allah atau bala bantuan Tuhan. Oleh karena itu, hal ini tidak bisa dimaknai sebagai rahasia,” Herri di Kompas.com (Selasa) , 8 November 2020) kata.

“Jadi mereka percaya kepada Tuhan, tapi dengan cara ini mereka memberikan berbagai sesaji. Salah satunya adalah bubur nasi merah putih,” lanjutnya.

Bubur merah putih sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia Sejarah bubur merah putih dapat ditelusuri kembali ke jaman pra-Islam, tepatnya di jaman Hindu. Kata Hurri, bubur merah putih bahkan sudah ada sejak jaman Serat Centhini. Katanya ini sudah terbukti, dan dia tertawa berkat catatan cara mengolah bubur atau bubur.

Chenan dianggap sebagai makanan yang terkait erat dengan generasi pertama kehidupan manusia. Pasalnya, bubur atau bubur nasi merupakan makanan yang pertama kali disantap oleh bayi manusia. Herry menuturkan: “Jadi kenapa masuk ke ranah agama dan ritual? Karena makanan tidak hanya bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, tapi juga bisa ada untuk kepentingan religi.” Sebagai sebuah produk, bubur merah putih memiliki warna yang khas. Makna spesifik yang terkandung.

Tinggalkan Balasan