2020-12-29 |  Lifestyle

Laporan Reporter Tribunnews.com Eko Sutriyanto-Jakarta TRIBUNNNEWS.COM-memprediksi konsumsi daging per kapita tahun ini akan turun ke level terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Penurunan 3% dari tahun lalu Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), penurunan tersebut bahkan lebih besar sejak tahun 2000.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa karena kesulitan ekonomi, pembatasan transportasi, dan tantangan logistik lainnya, serta penurunan tajam permintaan restoran, merger Covid-19 telah menyebabkan penurunan harga. — Salah satu penyebabnya juga karena kurangnya pekerja di industri pengemasan daging, yang telah menjadi salah satu sumber penyebaran virus paling serius di banyak negara di dunia. — Insiden demam babi Afrika di Asia juga telah menurun, mengakibatkan seperempat babi dunia disembelih.

Baca: Kaldu sapi, rempah-rempah dan sayuran cocok untuk sarapan dan makan siang Rabobank memperkirakan permintaan protein dan pakan hewani di Asia Tenggara akan menurun. Badan tersebut memperkirakan bahwa konsumsi daging akan terpengaruh sebesar 9% hingga 13%, daging babi akan berkurang 4% hingga 17%, dan ikan akan berkurang 6% hingga 11%. Di Indonesia, permintaan unggas akan turun dari 1% menjadi 4%.

Membuka jalan untuk diet baru

Seiring dengan penurunan konsumsi daging, permintaan akan produk herbal di Amerika Serikat dan negara lain juga meningkat hingga 53%.

Untuk membantu transisi konsumen yang berminat ke kebiasaan makan yang lebih berkelanjutan, lebih welas asih, dan lebih sehat, tantangan vegetarian gratis selama 21 hari mengundang pelamar untuk mencoba 21 hari kebiasaan makan baru.

Tinggalkan Balasan