2020-08-25 |  Kilas Kementerian

Yogyakarta, TRIBUNNEWS.COM-International Maritime Organization (IMO) melalui pertemuan ke-101 Maritime Safety Committee (MSC) yang dilaksanakan pada bulan Juni 2019, menetapkan rencana / peta untuk navigasi ke arah yang berlawanan dalam kondisi yang sangat sibuk. Jalur transportasi kapal yang sempit di perairan Indonesia (yaitu Selat Sunta dan Selat Lombok) atau disebut juga Traffic Separation System (TSS).

Da He dan TSS Selat Lombok akan sepenuhnya dilaksanakan atau diberlakukan pada tahun 2020 mulai 1 Juli. Rilis IMOCOLREG.2-IARC juga memperkuat poin ini. 74 dan SN.1-IARC.337, yang melibatkan implementasi TSS dan tindakan perutean terkait di Selat Data dan Selat Lombok.

Dengan implementasi TSS di Probe dan Selat Lombok. , Pemerintah Indonesia. Kementerian Perhubungan, secara khusus melalui Administrasi Umum Angkutan Laut, stasiun Merak Vessel Traffic Service (VTS) di zona angkutan kelas satu Tanjung Priok dan VTS Benoa di zona navigasi kelas dua Benoa Station, harap berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan layanan navigasi untuk kapal. Guna meningkatkan keselamatan navigasi di dua selat penting ini dan melindungi lingkungan laut, kapal melintasi TSS di Selat dan Lombok.

Ini merupakan kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh Direktur Navigasi Hengki Angkasawan di bidang operator dan teknisi telekomunikasi navigasi yang dilaksanakan di Yogyakarta sejak Senin (27/7/2020) hingga Selasa (28/7/2020). Dua (dua) hari.

“Hal ini sangat penting bagi operator VTS dan teknisi telekomunikasi maritim untuk meningkatkan kapabilitasnya. Mereka terkait dengan ilmu yang dibutuhkan untuk mewujudkan peran VTS dalam mengawasi pelaksanaan TSS. Kita juga harus memenuhi persyaratan yang berlaku terkait dengan penyelenggaraan telekomunikasi maritim Kompetensi diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan, “kata Hengki.

Inilah mengapa Hengki berkeyakinan bahwa penyelenggaraan kegiatan pembinaan bagi operator telekomunikasi maritim dan tenaga teknis, yaitu memberikan pembinaan dan pemutakhiran atas regulasi terkait dan petunjuk terkait lainnya untuk membantu meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia operator dan tenaga teknis. , Untuk mencapai keselamatan navigasi di perairan Indonesia dan melindungi lingkungan laut. Sistem rute kapal IMO sangat penting untuk meningkatkan keselamatan navigasi dan melindungi lingkungan laut.

Selain itu, mengingat pemandangan Selat Sunda dan Selat Lombok, TSS juga merupakan salah satu jalur internasional terpenting. Ada dua TSS di Selat Kepulauan Indonesia (ALKI), sehingga diperlukan penelitian yang mendalam untuk memahami dampaknya. Di TSS Indonesia juga terdapat peraturan internasional mengenai prosedur navigasi wilayah TSS. Salah satunya terkait United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) dan hubungannya dengan penegakan hukum dalam pelaksanaan TSS, yang dijelaskan oleh Laksamana TNI, Kepala Departemen Hukum Angkatan Laut Indonesia. “Kresno Buntoro juga terkait dengan implementasi Colregs under Rule 10 yang ditugaskan oleh praktisi terkait dengan konvensi IMO, khususnya COLREG,” kata Hengki. Di stasiun VTS.

“Selain itu, mereka juga akan diinformasikan tentang aturan-regulasi nasional yang berlaku, standar komunikasi maritim internasional / frase standar komunikasi maritim (SMCP) dan standar operasi dan prosedur (SOP). Hengki menjelaskan bahwa mereka harus berada dalam situasi normal dan darurat. Implementasi TSS diterapkan sebagai berikut: – Hengki berharap dengan mengikuti kegiatan ini para operator dan teknisi telekomunikasi maritim khususnya petugas jaga TSS di stasiun VTS Selat Lombok dan Selat Sunda dapat melaksanakan update dan regulasi, update dan pengetahuan baru, Untuk meningkatkan kinerjanya dalam pelaksanaan layanan.Dari sisi informasi, operator dan teknisi telekomunikasi maritim telah melakukan pembinaan di Yogyakarta untuk mendukung Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata utama yang dinilai sebagai salah satu industri yang dapat menghidupkan kembali perekonomian Indonesia. Pasca pandemi, tentunya “Health Protocol” tetap digunakan untuk mencegah COVID-19.

Kegiatan pembinaan teknisi navigasi dan operator telekomunikasi mengumpulkan 10 (sepuluh) peserta, dimana 5 (lima) orang merupakan peserta dari stasiun Merak VTS Tanjung Priok (Tanjung Priok) navigasi Tipe I Personil dari kecamatan dan 5 (lima) orang dari stasiun VTS Benoa di bawah area navigasi Benoa II secara langsung hadir mewakili seluruh wilayah pelayaran. (*)

Tinggalkan Balasan