2020-08-25 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Menteri Desa, Daerah Miskin, dan Imigrasi Abdul Halim Iskandar (Abdul Halim Iskandar) mengatakan bahwa desa memiliki model dan modul sendiri untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk mengatasi Covid-19. Normal baru di era pandemi. Uniknya, masih bertumpu pada budaya dan adat istiadat.

“Saya berharap praktisi dapat memberitahu orang-orang bagaimana desa melalui budaya merespon normal baru kehidupan pedesaan,” katanya-dia menyatakan dalam pidato utamanya di Konferensi Budaya Dunia. Kampung ini hampir digelar di Jakarta, Rabu (7 Januari 2020).

Menteri Gus mengumumkan rencana penyelamatannya, menjadikan pandemi Covid-19 mempengaruhi paradigma baru dengan melihat dunia termasuk budaya. Misalnya, budaya tatap muka, jabat tangan, dan budaya mengobrol waktu nyata dalam seminar telah diubah menjadi budaya virtual berteknologi lengkap. Biasanya kita ketemu tatap muka, salaman, cipratan, ngobrol, kalau bahasa jawa bercanda ya tidak. Tapi kami tatap muka untuk mencari budaya baru yang disebut teknologi informasi untuk membantu. “- Ia meyakini, untuk itu, tatanan hidup normal baru merupakan langkah strategis untuk mengatasi pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19.

Ia melanjutkan bahwa sesuai tatanan kehidupan normal baru, sangat memungkinkan bagi masyarakat untuk bertemu Dan bercakap-cakap langsung sambil menjaga jarak, daripada bersalaman dan saling menghargai kebiasaan sehat, karena ini bukan budaya kita dari segi asal, kita ingin kembali ke budaya asal kita, ”ujarnya. -Menteri Gus meyakini bahwa di balik kekacauan nasional yang menyelesaikan berbagai masalah, desa memiliki solusi uniknya sendiri. Desa berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah desa melalui adat dan budaya masing-masing desa.

Tidak hanya itu, menurutnya pembangunan dan penyelenggaraan desa juga berbasis pada akar budaya. Hal ini dikarenakan adat dan budaya Indonesia berasal dari desa tersebut.

“Saya selalu mengatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa tidak boleh lepas dari landasan dan asal muasal budaya desa setempat,” ujarnya, menurut Gus Halim, musyawarah budaya desa merupakan akar budaya Titik awal kebangkitan pedesaan negara. Ia berharap Konperensi Budaya Pedesaan bisa rutin diadakan setiap tahun.

“Saya berharap ini menjadi awal dari Musyawarah Budaya Desa dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan