2020-08-24 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Administrasi Kelautan Kementerian Perhubungan terus mendorong swasembada pangan, terutama daging sapi nasional, agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi. Dirjen Perhubungan Kapten Visnu Handuko terus memberikan dukungan untuk terus mengoperasikan enam kapal pemeliharaan sapi (ocean liner) sejak tahun 2018 untuk mencapai swasembada pangan khususnya daging sapi. ) Meski dalam pandemi saat pandemi Covid-19, namun dapat memberikan kepastian kepada pengguna jasa dalam menyiapkan dan mengangkut ternak, ”kata Capt Wisnu di Jakarta, Rabu, 24/6. Kapten Wisnu, per kilometer. Camara Nusantara 1. Dioperasikan PT. KM, Perni. Camara Nusantara 2. Dioperasikan PT. Pelayaran Wirayuda Maritim. KM. Camara Nusantara 3 dan KM. Cemara 4. Dioperasikan PT. Lintas, Queensland Subsea Globalindo. Camara Nusantara 5 dioperasikan oleh PT. Line area. Kelima kapal ini semuanya dioperasikan di pelabuhan dasarnya di NTT Coupang. Kapal lainnya adalah Camara Nusantara 6, dioperasikan oleh PT. ASDP dan kami berada di Guanwang Ge Kerja sama pangkalan pelabuhan Lundalo.

“Menurut data pada Juni 2020, keenam kapal ini membawa maksimal 13.163 ekor sapi, 24 kambing dan 24 kuda untuk memenuhi kebutuhan daging. Wilayah Indonesia, khususnya Kapten Wisnu, mengatakan: “Disebutkan bahwa rencana pengoperasian kapal khusus angkutan ternak yang disediakan oleh Kementerian Perhubungan merupakan salah satu implementasi dari rencana sea charging karena mendukung terwujudnya tujuan tersebut. Konsumsi hewan di sentra produksi peternakan Dalam hal ini, biaya operasional selalu disubsidi oleh pemerintah melalui anggaran Kementerian Perhubungan (dalam hal ini Administrasi Umum Angkutan Laut).

“Dalam tiga tahun terakhir, Anggaran subsidi untuk pengoperasian kapal ternak juga meningkat, dan pada tahun 2020 kami telah mengalokasikan dana sebesar 46,5 miliar dolar AS. Kapten Visnu mengatakan, jumlah ini lebih tinggi dari anggaran tahun 2018 sebesar 36,8 miliar dan tahun 2019 sebesar 23,3 miliar. Untuk 6 trayek 6 kapal peternak, masing-masing trayeknya adalah trayek RT-1 NTT-NTT yang terkoneksi dengan pelabuhan, melayani Kupang-Waingapu-Tanjong Pruek-Cirebon- Jalan Pelabuhan Kupang; Tol RT-2 dengan Pelabuhan Dasar Kupang NTT melayani Tol Kupang-Wini-Atapupu-Tanjung Priok / Banjarmasin / Samarinda-Kupang; Tol RT-3 dengan Pelabuhan Pangkalan Kupang, NTT Jalan Coupang / Bima-Tanjungpuruk-Kupang / Bima .

Jalan raya RT-4 dengan basis pelabuhan Coupang, NTT melayani jalan Kupang-Wini-Atapupu-Samarinda / Balikpapan-Kupang ; Tol RT-5 dengan Pelabuhan Pangkalan NTT Kubang mengarah ke Tol Kupang-Banjarmasin-Bima-Banjarmasin-Kupang; Tol RT-6 dan Pelabuhan Dasar Kwanang dilayani oleh Tol Kwandang-Tarakan-Balikpapan / Samarinda-Kwandang. Biasanya, Sebagian besar kargo dikirim ke Jakarta, dan menjelang Idul Adha akan diminta wilayah lain seperti Samalinda, Balikpapan, Riau, dan Bangkulu, yang bukan jalur reguler yang disediakan oleh pemerintah daerah. Kapten Wisnu Handoko minta kenaikan Atau memodifikasi jalur kapal penangkaran. Dijelaskannya, pada prinsipnya selama masih di Indonesia, semua perahu penangkaran dapat digunakan untuk mengangkut sapi. Kapten Wisnu mengatakan: “Rute ditentukan berdasarkan daerah pengirim dan penerima yang ditentukan. Dan itinerary. Kapten Wisnou juga menambahkan bahwa jika ada permintaan penyimpangan rute di luar rentang yang telah ditentukan dalam satu tahun, maka harus ada proposal resmi untuk daerah pengirim, dan penerima harus disetujui terlebih dahulu.Dengan arahan umum angkutan laut cq arahan lalu lintas dan angkutan laut serta arahan PHH hewan Kementerian Pertanian. Penanggung jawab yang relevan menyimpulkan: “Pencapaian akan didanai oleh pihak pengirim ternak.” Wisnu. (*)

Tinggalkan Balasan