2020-08-18 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Pertanian (Kementan) menyadari pandemi Covid-19 memengaruhi pasokan pangan. Alasannya adalah bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) baru-baru ini menyatakan bahwa pandemi korona mungkin berdampak pada kekurangan pangan. Menurut data Kementerian Pertanian dan Perencanaan Pertanahan / Badan Pertanahan Nasional (ATR / BPN), antara tahun 2013 dan 2019, lahan pertanian berkurang 287.000 hektar.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) sendiri kerap mengingatkan pemerintah daerah agar menggunakan Distan untuk benar-benar menjaga kelestarian lahan pertanian agar tidak berubah fungsinya. Menteri Pertanian mengatakan, pengalihan lahan di beberapa wilayah menyebabkan hilangnya hasil produksi yang sangat besar, dan sekitar 10.000 hektar sawah tergenang air.

“Saya katakan lahan merupakan faktor utama dalam produksi pertanian untuk mencapai ketahanan pangan nasional.” SYL mengatakan: — Secara hukum, konversi lahan pertanian dilindungi oleh UU No. 41 tahun 2009, yang melarang lelucon. Aturan ini mengancam siapa saja yang secara tidak langsung mengubah fungsi bumi. », Tegasnya-Sarwo Edhy, General Manager Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), menjelaskan bahwa untuk menghindari pengalihan lahan, setiap orang harus menunjukkan kesediaan untuk serius melaksanakan regulasi. Kepentingan, terutama pemerintah daerah, harus benar-benar melaksanakan (menegakkan) peraturan tersebut, “Terkait peruntukan dan pengalihan fungsi lahan pertanian berkelanjutan, Salvo Eddy (Pemerintahan No. 1 tahun 2011) menyatakan. Li, PP. UU No. 21/2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian Berkelanjutan 26/2007 tentang perencanaan wilayah dan PP-nya.

Tinggalkan Balasan