2020-08-18 |  Kilas Kementerian

JAKARTA, TRIBUNNEWS.COM-Menteri Pemuda dan Olahraga (Mong Pola) Zainudin Amali berbincang informal dengan pasangan pencak silat Indonesia Hanifan Yudani Kusumah dan Pipiet Kamelia selama Ramadhan dan malam yang menyenangkan, mereka meraih kesuksesan melalui obrolan online dan kemudian Sabtu (25/4 )/2020 akan bertempat tinggal di Perumahan Jatiwaringin, Jakarta Timur. Dua sejoli meraih medali emas di Asian Games 2018. Pertama, Menpora mengobrol dengan Hanifan dengan santai. Sebagai tuan rumah, Menpola banyak bertanya. Suasananya sepertinya penuh privasi. Menurut Menpora, Hanifan merupakan salah satu pejuang andalan Indonesia dan menjadi harapan tim Merah Putih. Jadi, bagaimana Hanifan menjadi tertarik pada seni bela diri? Menpra bertanya: “Ada banyak seni bela diri.” Setelah mendengar kabar tersebut, Hanifan menjelaskan bahwa karena orang tuanya, dia sangat tertarik dengan seni bela diri dan berharap dapat mengikuti jejaknya. Oleh karena itu, ia berlatih dan memutuskan untuk terjun ke dunia bela diri.

“Pada awalnya ikuti jejak orang tua. Latihan, semangat dan tekad. Kemudian ikut kejuaraan dan ikuti mengikuti PON. Lalu ikut pelatihan dan buat pilihan. Katanya:” Proses seleksi sangat ketat, dengan sesepuh dan teman kompetisi. “Tekad yang kuat membuat Hanifan akhirnya bisa lolos dan melanjutkan karir bertarungnya. Dari Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga Asian Games, ia mengikuti berbagai kejuaraan.

“ Bermain PON sangat luar biasa. Hanif merasa seperti kuda hitam. Sebagai pendatang baru, dia turun ke tingkat nasional dan terkejut. Tidak hanya itu, yang terpenting adalah berpartisipasi di Asian Games. Itu harus dipilih lagi sebelumnya. Di Asian Games, kami berjuang untuk mati. Kemudian Menpora kembali bertanya kepada Hanifan tentang perkembangan Pencak Silat di Indonesia. Selain itu, UNESCO telah menetapkan tradisi pencak silat sebagai warisan budaya takbenda-Hanifan percaya bahwa pencak silat saat ini berkembang dengan sangat baik. Ia berharap pencak silat bisa terus berkembang biak.

“Pencak silat sangat berkembang. Kita ingin pencak silat ini tinggi. Hanifan selalu memberikan pembinaan dan motivasi kepada adik-adik, jangan bangga belajar pencak silat. Ia menjelaskan bahwa kita tidak ingin kalah dari negara lain. Di saat yang sama, Menpora memuji prestasi Hanifan di Asian Games 2018. “Saya tidak mengerti (sekaligus) berpelukan. Semangat dulu saya, dan saya kalah di babak ini dulu. ”Lalu muncul Pak Jokowi (Pak Jokowi), merasa terbebani, meski perhatian saya lenyap beberapa detik. Kalau saya kalah, apalagi Ya jika kita tuan rumah. Saya tidak ingin ini terjadi (kegagalan). “Bagaimana saya harus menang. Saya berani mengejar poin, dan akhirnya saya berhasil. Saya bangga bisa menang. Saya tidak pernah berpikir saya bisa menang. Saya putuskan untuk tetap dekat dengan Pak Jokowi, Pak Prabowo, dll. Di sana sejuk dan menyenangkan. Setelah itu, Menpora menanyakan hubungan Hanifan dan Pipiet hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Hanifan tersenyum. Hanifan mengatakan bahwa awalnya mereka hanya berteman. Bagikan cerita, bagikan keterampilan.

“ Tetapi sesekali, orang akan memiliki ide yang serius. Sampai akhirnya menikah, ” ucapnya. Hanifan dipanggil Pipet, sangat aktif dan suka mengoreksi selama pelatihan.

“Hanifan itu orang yang sangat bodoh. Dia orang yang aktif. Biasanya, misalnya, dia mengoreksi amalannya. Lalu rasanya seperti dia bilang,” Akhirnya nikah. “Saat Asian Games 2018, kami sangat dekat di sana. Kemudian kami menikah setelah Asian Games 2018. Banyak orang.

Kedua pejuang Indonesia ini juga berpesan kepada masyarakat agar mengikuti saran pemerintah saat wabah Covid-19. Ia berharap warga setempat bisa terus berkreasi, menjaga jarak, tetap sehat, selalu memakai masker, dan sering cuci tangan (*)

Tinggalkan Balasan