2020-08-14 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Dewan Direksi (WBG) Asian Productivity Organization (APO) ke-62 memutuskan untuk menggunakan sisa anggaran APO yang terkumpul dari tahun 2010 hingga 2019 untuk mencapai pemulihan ekonomi dan pandemi Covid-19.

Sebagai Wakil Direktur APO Indonesia Sesditjen Binalattas Kemnaker Surya Lukita Warman menjelaskan, dalam conference call APO GBM yang dipandu oleh Sekjen APO AKP Mochtan (Indonesia) dan APO, sebagian besar anggota mencapai kesepakatan setelah memberikan rekomendasi pada conference call APO GBM. Ketua pertemuan, Dr. Ha. Minh Hiep (Vietnam) Senin (6/8/2020) .- “Negara-negara anggota APO sepakat mengalokasikan anggaran untuk meminimalisir dampak pandemi Covid-19,” kata Surya, Dirjen Tenaga Kerja Binalattas Lukita Bambang Satrio Lelono.

Surya mengatakan sekitar US $ 2,5 juta dari alokasi anggaran akan digunakan untuk meringankan krisis akibat pandemi Covid-19, seperti rencana transformasi bisnis, kegiatan kelangsungan bisnis, dll untuk membantu berbagai negara. UMKM. “Diimplementasikan dengan memperkuat kapasitas organisasi digital non profit; memberikan layanan dalam negeri; menyelenggarakan digital multi account program (DMC), dan melakukan penelitian untuk merestorasi UMKM / UMKM (UMKM)”, kata Surya Lukita .

Sekretariat Jenderal APO AKP Mochtan menambahkan tata cara penggunaan surplus, yakni setiap negara anggota APO akan mendapat bantuan yang sama dan akan mendapat bantuan dalam pelaksanaannya. Ia mengatakan, “Ia menambahkan.” APO didirikan pada 11 Mei 1961 sebagai organisasi di Asia untuk meningkatkan produktivitas anggotanya.

perwakilan APO dari 20 negara berpartisipasi dalam conference call tersebut . 20 negara / wilayah yang berpartisipasi dalam penskalaan GBM 6 jam adalah Indonesia, Filipina, Vietnam (Ketua), Sri Lanka, Singapura, Thailand, Kamboja, Mongolia, Bangladesh, Jepang, Turki, Malaysia, Fiji, India, Cina, Nepal, Korea Selatan, Pakistan, Laos dan Iran. (*)

Tinggalkan Balasan