2020-08-13 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Menteri Desa, Daerah Miskin dan Imigrasi Abdul Halim Iskandar (Abdul Halim Iskandar) mengatakan desa memiliki model dan modul sendiri untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk mengatasi Covid-19. Normal baru di era pandemi. Hanya saja masih didasarkan pada budaya dan adat istiadat. Dia berkata: “Saya berharap para praktisi dapat memberi tahu orang-orang bagaimana desa melalui budaya dapat mengatasi normal baru kehidupan pedesaan.” Selama pidatonya di Konferensi Budaya Virtual Jakarta, Menteri Gus mengumumkan upeti pada hari Rabu (7/1/2020). Pandemi Covid-19 telah memengaruhi paradigma baru dalam memandang dunia, termasuk budaya. Misalnya, seminar tatap muka, salam, dan budaya obrolan real-time telah diubah menjadi budaya virtual semua-teknologi.

“Tidak semua orang yang menghadiri Konperensi Budaya Pedesaan 2020 seperti biasanya. Biasanya kita tatap muka, salaman, cipratan, dan ngobrol. Kalau bahasa Jawa bercanda ya tidak. Tapi kita tatap muka dan mencari satu Bantuan budaya baru disebut teknologi informasi, ”ujarnya. -Untuk alasan ini, menurutnya, tatanan kehidupan normal yang baru adalah langkah strategis untuk mengatasi pembatasan kegiatan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Dalam tatanan kehidupan normal yang baru, apakah tidak apa-apa? Orang bisa bertemu dan bercakap-cakap langsung sambil menjaga jarak, tanpa harus bersalaman dan mengikuti prosedur kesehatan. Karena semua ini sebenarnya bukan budaya aborigin kami, kami ingin kembali ke budaya aborigin kami, “katanya. Desa tersebut menyelesaikan masalah warga sebanyak mungkin melalui adat dan budaya masing-masing desa.

Dia pikir Tidak hanya itu, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pedesaan juga dilandasi oleh landasan budaya masing-masing desa.Karena adat dan budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia itu berasal dari desa. Ia mengatakan: “Saya selalu mengatakan bahwa perencanaan pembangunan dan pelaksanaan pembangunan pedesaan tidak boleh lepas Akar dan akar budaya pedesaan setempat. “Menurut Gus Halim, Musyawarah Budaya Desa ini menjadi momentum dan titik awal bagi kebangkitan desa yang berakar budaya. Ia berharap Musyawarah Budaya Desa bisa rutin diadakan setiap tahun.

“ Saya harap Ini akan menjadi awal Musyawarah Budaya Desa beberapa tahun ke depan, ”ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan