2020-08-12 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM – Presiden MPR Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan bahwa visi Indonesia untuk 2045 emas lebih dari sekadar ilusi.

Arah dan tujuan bangsa Indonesia 100 tahun setelah kemerdekaan adalah tujuan yang ingin dicapai.

Sasaran Indonesia adalah menduduki peringkat kelima dalam produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 5,7%, PDB per kapita mencapai US $ 23,199, peran investasi meningkat 6,4%, peran industri meningkat 6,3%, dan peran pertanian meningkat 3,2%.

“Tantangan terbesar adalah jumlah orang yang besar, yang diperkirakan mencapai 311 hingga 318 juta orang. Penduduk berusia 0 hingga 14 tahun adalah 62 hingga 65 juta, dan populasi usia 15 hingga 64 tahun adalah 205 hingga 205. 207 juta orang Kelompok usia di atas 65 tahun telah mencapai 43 hingga 44 juta jiwa. “Penduduk usia produksi massal yang berusia 15 hingga 64 tahun harus mencapai pertumbuhan terbesar dalam kekuatan ekonomi dan masyarakat,” Bamsoet dalam acara Mahasiswa Nasional Pancasila ke-15. Pertemuan (MAPANCAS) dan seminar etnik berbunyi: “Membangun Pilar Nasional Menuju Indonesia Emas 2045”, sebenarnya di ruang rapat Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, Jakarta, dan mereka yang hadir pada pertemuan pada Selasa (20/7/28). Habib Syarif Abdullah dengan ketua MAPANCAS 2017-2020, Medi Sumaedi dan Urik Yanto dengan sekretaris MAPANCAS 2017-2020, dan terpilih sebagai presiden MAPANCAS 2020-2023 Pillar Saga Ichsan

Seorang pembicara lama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menekankan pentingnya pembinaan sumber daya manusia yang unggul yang berlandaskan hati bangsa Indonesia dan ideologi Pancasila Landasan Emas di Indonesia Tahun 2045. Atas dasar itulah, MPR RI aktif Mensosialisasikan empat pilar MPR RI, diantaranya Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 Asia Barat, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Organisasi Persatuan Kebhinekaan, kontribusinya bagi pembangunan bangsa.

“Sumber daya manusia memang unggul, tetapi di Indonesia Tanpa individualitas dan individualitas hanya akan menghasilkan prestasi yang rapuh dan tempa, karena cenderung mengabaikan seluruh aspek nasionalisme. Kita juga harus mewaspadai pesatnya perkembangan globalisasi. Bamsoet mengatakan: “Telah melahirkan berbagai ideologi dan ideologi global. Ideologi dan ideologi global ini tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, bahkan cenderung mengingkari nilai-nilai Pancasila. Eksistensi. ”Kehilangan nilai-generasi muda sudah mulai merasakan nilai-nilai Pancasila. Generasi muda tidak lagi mengenal rumusan sila Pancasila, tetapi mudah mengingat dengan sempurna lirik lagu berbahasa asing baris demi baris.

“Survei dilakukan pada akhir Mei 2020. Dalam komunitas Pancasila Muda, responden muda usia 18-25 tahun berasal dari 34 provinsi. Tampak bahwa hanya 61% responden yang merasa yakin dan setuju dengan Pancasila. Nilai-nilai Sila sangat penting dan erat kaitannya dengan kehidupan mereka.Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menampilkan Pancasila di semua tempat umum dan dihidupkan kembali dalam memori kolektif anak-anak di setiap negara, terutama generasi muda, ”jelas Bamsoet.- –Wapres Kamar Dagang dan Industri Indonesia menjelaskan bahwa setelah memperkuat basis sumber daya manusia, diperlukan pengembangan lebih lanjut. Ekonomi yang berkelanjutan, pembangunan yang adil, dan penguatan ketahanan dan tata kelola negara akan diberikan kepada Golden Indonesia pada tahun 2045 Sistem pendukung. Tak kalah pentingnya, Indonesia juga harus menyadari bahwa ekonomi politik global sedang bergeser dari Asia. Dari Asia Barat ke Asia Timur. Menjadikan kawasan Asia-Pasifik sebagai hub perdagangan dan investasi global. Indonesia memiliki banyak keunggulan, seperti sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah. , Jadi Anda memiliki peluang untuk menjadi pemain utama. Jangan sia-siakan peluang ini, “pungkas Bamsoet. (*)

Tinggalkan Balasan