2020-08-02 |  Kilas Kementerian

JAKARTA, TRIBUNNEWS.COM-Selama wabah Covid-19 di Indonesia, kreativitas pemasaran produk dari banyak usaha kecil dan menengah sedang diuji. Salah satunya adalah melalui dunia maya alias media sosial. Darmono dari merek e’Sambelin, produsen sambel UKM yang khas, juga mengambil tindakan yang sama.

Darmono mengatakan bahwa sejak munculnya virus Covid-19, ia telah menggunakan media sosial untuk mempromosikan dan menjual virus uniknya. Produk Samba. Konsumen masih sangat tinggi, “kata Darmono, dikutip dalam pernyataan yang diterima Tribunnews, Senin (4/5/2020). Awalnya, di Darmono I, pesanan Sambar berasal dari komunitas teman saya sendiri. Dari mulut ke mulut, Sang Pesanan Barr juga datang, Darmono mengatakan: “Kuncinya adalah kreativitas, tidak hanya pemasaran, tetapi juga kualitas produk. “Dari segi rasa, saus khas d’E’S’ambelin Cak’Mono juga memiliki berbagai rasa. Ukuran botolnya 150 mm, dan selain saus sambal yang biasa, ada juga ikan teri, pisang, dan kuping-Baca: Selama epidemi halo, lima kiat penting bagi usaha kecil untuk berjualan secara online – akhirnya, harga cumi-cumi ditetapkan antara 30.000 rupee dan 35.000 rupee. Sedangkan untuk rasa cumi-cumi, harganya 45.000 rupee. “Reseller mendapatkan uang tunai. Potongan harga atau diskon 5.000 rupee, “kata Damon. Dia mengatakan dia memiliki kemampuan untuk memproduksi ratusan tiga botol di setiap pesanan – meskipun di Jabodetabek, pesanan untuk Sambar dari beberapa bagian Indonesia mulai meningkat. Darmono mengatakan: “Banyak pesanan juga telah dimulai dari Jakarta. “Baca: Melalui webinar berbagi kata sandi, kiat perusahaan selama pandemi korona – mengenai pengemasan, e’Sambelin juga dapat memperoleh kemasan plastik praktis dengan cara yang sederhana. Namun, itu akan mengutamakan unsur higiene.

Di masa depan, e’Sambelin akan terus berinovasi untuk mengembangkan dalam hal kualitas produk, variasi rasa dan inovasi pemasaran. “Sebagai tempat pertemuan bagi perusahaan kecil dan menengah, epidemi korona ini dapat dicapai melalui kreativitas, inovasi, dan keuletan. Dan sebenarnya penggunaan media sosial, “simpul Darmono. (*)

Tinggalkan Balasan