2020-07-26 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM – Ancaman krisis pangan yang disebabkan oleh FAO tidak boleh diremehkan. Perlambatan ekonomi global dan proyeksi peningkatan kemiskinan pasti akan berdampak pada pasokan makanan masyarakat.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah berulang kali menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga keamanan pangan. Komitmen ini tercermin dalam berbagai tahap strategis peningkatan pasokan makanan di bawah normal baru, termasuk peningkatan kapasitas produksi dengan mempercepat musim tanam kedua, mengembangkan rawa, memperluas tanaman baru, diversifikasi pangan lokal, memperkuat cadangan makanan dan sistem logistik makanan, dan modern Pengembangan pertanian.

Sekretaris Pertahanan SYL sering menekankan bahwa pertanian adalah sektor yang menjanjikan karena semua orang membutuhkan makanan. Pertanian telah menjadi sektor utama, menyumbang sekitar 55,5% dari PDB pada kuartal pertama 2020. Dengan mengacu pada data BPS, diharapkan persediaan akhir beras pada Desember 2020 akan mencapai 6,27 juta ton. Menteri Pertanian SYL menyatakan pada hari Kamis (25/6) bahwa ini masih akan memenuhi permintaan hingga Februari 2021.

Demikian pula, beberapa makanan pokok lainnya yang dipantau oleh pemerintah termasuk 27.100 ton bawang, 613, 7.000 ton ayam, 100.000 ton telur, dan 1,21 juta ton gula. Karena itu, strategi Kementerian Pertanian adalah mengurangi biaya transportasi makanan dari daerah surplus ke daerah yang sangat miskin. Hal ini dilakukan untuk membuat tanaman petani diserap oleh pasar selama pandemi, sehingga membuat petani bersemangat untuk menanam. Pada Juni 2020, total volume transportasi bawang merah, 19,9 ton paprika besar, 62,2 ton paprika, dan 26,5 ton telur mencapai 140 ton. Intervensi pengadaan akan terus dilaksanakan melalui fasilitasi transportasi untuk memastikan akses yang merata ke makanan di seluruh wilayah. Selain itu, Kementerian Pertanian, melalui Biro Keamanan Pangan (BKP), telah memperkuat stabilitas pasokan dan harga dengan mengembangkan toko di Mitratani dan Mitratani. Tujuannya adalah memutus rantai pasokan sehingga produsen dapat memperoleh harga yang cukup besar dan konsumen dapat memperoleh makanan yang terjangkau. Agung Hendriadi, kepala BKP, mengatakan bahwa strategi lain yang diadopsi oleh Kementerian Pertanian untuk memprediksi krisis pangan adalah diversifikasi diet lokal.

Tinggalkan Balasan