2020-07-26 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM – Kementerian Pertanian terus meningkatkan produktivitas pangan negara dengan menjalankan banyak program, salah satunya adalah kegiatan optimalisasi lahan. Melalui rencana ini, Kementerian Pertanian mengundang semua petani untuk menggunakan semua lahan yang tersedia.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, perkembangan ekonomi yang pesat mendorong sektor pertanian untuk bersaing dengan yang lain. Departemen menggunakan sumber daya lahan. Situasi ini juga memicu transformasi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian. Akibatnya, area lahan pertanian telah berkurang dan ini berdampak pada produksi pertanian.

“Oleh karena itu, penggunaan rawa adalah cara alternatif untuk meningkatkan produksi pertanian. Kesuburan tanah rendah, IP hanya ditanam selama satu tahun, dan pemahaman tentang optimasi tanaman terbatas. Rawa telah menjadi penghambat rawa. Menteri Pertanian SYL pada hari Kamis (11 Juni 2020) Ketika saya mengunjungi Kabupaten Capuas di Kalimantan Tengah, katanya.

Mengoptimalkan lahan budidaya di rawa untuk menjadikannya lahan pertanian yang produktif dapat dicapai dengan membangun sistem air. Optimalisasi pengaturan lahan ini adalah salah satu langkah yang diambil oleh Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur dan Fasilitas Pertanian (PSP) untuk meningkatkan produksi tanaman pangan.

Menurut Sarwo Edhy, Direktur Jenderal Kementerian Pertanian PSP, ini dapat diimplementasikan melalui inovasi dan spesifik Teknologi untuk mencapai pembangunan pertanian, terutama di daerah-daerah di mana satu plot besar dikelola dengan berat. Salvo Edhi mengatakan: “Diharapkan infrastruktur yang tepat dan dukungan mekanisasi pertanian akan meningkatkan produktivitas dan indikator tanaman. Oleh karena itu, ini akan berdampak positif pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Dia menambahkan bahwa salah satu elemen fungsi fisik dataran rawa adalah perbaikan infrastruktur tanah dan air, termasuk pembangunan atau perbaikan kanal, pintu air, tanggul, saluran drainase, serta persiapan dan pengelolaan lahan.

“Pengelolaan air adalah kunci keberhasilan pengelolaan lahan basah. Selama musim hujan dan kemarau, pengelolaan air mutlak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Air harus benar-benar memenuhi kemampuan beradaptasi tanaman dan memastikan lapisan, jelasnya.

Salvo Eddy mengatakan bahwa kegiatan optimasi lahan dilakukan di Kalimantan Tengah. Pada 2019, 4.000 hektar lahan rawa dioptimalkan. Salah satunya dilakukan oleh Poktan Berkat Kakal dari Desa Tampa, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, yang luasnya 120 hektar. Bangun kanal drainase untuk mengeruk seluruh kanal 3,173 m. Dia menjelaskan bahwa proyek telah selesai pada akhir 2019, sehingga pada tahun 2020, proses percepatan penanaman sudah dapat dilakukan.

Kegiatan optimasi tanah rawa di daerah Barito Timur juga dilakukan di Desa Netampin di Kabupaten Dusun Tengah, P3A Danum Nyalir menerima bantuan seluas 170 hektar.

“Tahap awal konstruksi dilakukan dengan membuat kanal jadi sepanjang 4.642m. Selain itu, total 5 gerbang dibuat, yang saat ini tersedia untuk persiapan lahan dan penanaman,” Salvo menjelaskan lagi, Eddie .

Produktivitas kegiatan optimisasi rawa di daerah ini adalah sekitar 3,6 ton hingga 4 ton per hektar, sehingga diharapkan aktivitas rawa Oprah dapat ditingkatkan setidaknya 2 kali lipat.

Tinggalkan Balasan