2020-07-08 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM Jakarta-Pedesaan, Wilayah Rentan dan Departemen Imigrasi (Departemen PDTT) menyiapkan 1,8 juta hektar lahan imigran untuk membantu ketahanan pangan setelah 19 kejang.

– Lahan pertanian akan diintensifkan untuk mempercepat dan mempercepat serta meningkatkan output beras.

Menteri Abdul Halim Iskandar, Menteri Pedesaan, Daerah Miskin dan Imigrasi, mengumumkan pada konferensi pers virtual yang diadakan di kantor PDTT Kementerian Kesehatan bahwa berita itu diumumkan pada hari Kamis. (14/5/2020) .

“Lahan yang tersedia untuk intensifikasi adalah 1,8 juta hektar lahan pertanian di antara 3,2 juta hektar wilayah imigran. Lokasinya tersebar di berbagai wilayah,” jelasnya.

Menteri Gus menjelaskan nama panggilannya, 18 juta hektar lahan pertanian, dimana 500.000 hektar telah terlibat dalam kegiatan produksi. Diintensifkan untuk merangsang percepatan dan peningkatan produksi beras di darat.

Intensifikasi 500.000 hektar lahan imigran akan membantu memenuhi kebutuhan pangan 16 juta orang setiap tahun.

“Misalnya, hasil saat ini, hasil rata-rata tanaman sekitar 3-4 ton per hektar. Dalam rencana intensif ini, sebanyak mungkin untuk meningkatkan output setidaknya 5 hingga 6 ton per hektar, jelasnya.” Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa 500.000 hektar lahan ini memenuhi kondisi yang diperlukan untuk intensifikasi, yaitu tenaga kerja, tanaman berkualitas, pupuk, mekanisasi dan irigasi, penggilingan padi, pemanen dan gudang.

Dalam jangka panjang, sisa 1,3 juta hektar lahan akan diperkuat dengan terlebih dahulu menyiapkan prasyarat seperti mekanisasi dan irigasi yang belum tersedia, Rice-he melanjutkan, bahwa penyediaan persyaratan intensifikasi akan melibatkan kementerian / lembaga terkait . Mantan presiden DPRD mengatakan: “Kami akan menguji 500.000 hektar pada awal 2021. Kemudian, kami akan menambah 13 juta hektar lagi. Ini dalam jangka menengah dan panjang.” Jawa Timur

Gus Menteri mengatakan bahwa penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian untuk memprediksi kemungkinan pandemi ketahanan pangan yang didambakan19.

Dia mengatakan bahwa peningkatan permintaan makanan telah menurun, tetapi tidak. Tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk negara lain. – “Karena sulit untuk mengumpulkan 19 komoditas impor, karena setiap negara pasti akan mempertimbangkan kebutuhannya sendiri. Kita harus berani, yang berarti mendorong usaha kecil dan menengah (UKM), dan pertanian didorong karena setiap negara akan mempertahankan Wilayah sendiri, “katanya. (*)

Tinggalkan Balasan