2020-12-27 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Ancaman krisis pangan akibat FAO tak bisa dianggap remeh. Ramalan melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan meningkatnya kemiskinan pasti akan berdampak pada perkembangan pangan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan dalam berbagai tahapan strategis upaya peningkatan pasokan pangan di masa normal baru, antara lain dengan percepatan musim tanam kedua, pengembangan lahan rawa, perluasan tanaman baru, diversifikasi pangan lokal, serta penguatan cadangan pangan dan logistik pangan. Memperbaiki sistem kapasitas produksi dan pengembangan pertanian modern.

Menteri Pertanian SYL sering menekankan bahwa pertanian merupakan sektor yang menjanjikan karena segala sesuatu di dunia membutuhkan pangan. Pertanian adalah sektor utama, menyumbang sekitar 55,5% dari PDB pada kuartal pertama tahun 2020.

Terkait pasokan pangan, Menteri Pertanian SYL menjamin bahwa pasokan pangan sebelum akhir tahun 2020 baik dan aman. Berdasarkan data BPS, stok akhir beras pada Desember 2020 diperkirakan mencapai 6,27 juta ton. Menteri Pertanian SYL, Kamis (25/6), menyatakan masih bisa memenuhi permintaan hingga Februari 2021. 7000 ton, telur 1,044 juta ton, gula 1,210 juta ton.

Kondisi pasokan nasional harus dibarengi dengan beban harga yang seragam di seluruh wilayah. Oleh karena itu, strategi Kementerian Pertanian adalah mengurangi biaya pengangkutan makanan dari daerah surplus ke daerah yang sangat miskin. Hal ini dilakukan agar hasil panen petani terserap ke pasar saat terjadi pandemi, sehingga petani selalu semangat menanam.

Dari April hingga Juni. Hingga Juni 2020, total sarana pengangkutan telah mencapai 140 ton bawang merah, 19,9 ton paprika besar, 62,2 ton paprika, dan 26,5 ton telur. Intervensi pasokan melalui fasilitasi transportasi akan terus memastikan bahwa akses ke pangan tetap merata di seluruh wilayah. Tujuannya untuk memutus rantai pasok sehingga produsen bisa mendapatkan harga yang cukup besar dan konsumen bisa mendapatkan pangan yang terjangkau.

Tinggalkan Balasan