2020-12-19 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Menteri Desa, Daerah Miskin dan Imigrasi Abdul Halim Iskandar (Abdul Halim Iskandar) mengatakan desa memiliki model dan modul sendiri untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk mengatasi Covid-19. Normal baru di era pandemi. Hanya saja selalu bergantung pada budaya dan adat istiadat. Jakarta, Rabu (7 Januari 2020).

Menteri Gus menyampaikan salamnya bahwa wabah Covid-19 telah membawa dampak baru pada pandangan dunia termasuk budaya. Misalnya, budaya tatap muka dalam seminar, jabat tangan, dan budaya obrolan langsung telah diubah menjadi budaya virtual berteknologi lengkap. – “Saya sendiri dan seluruh peserta Konferensi Budaya Pedesaan 2020 tidak seperti biasanya. Biasanya kita ketemu tatap muka, salaman, ngobrol, ngobrol, kalau bahasa jawa bercanda tidak akan. Namun, kita upayakan satu tatap muka Budaya baru yang disebut teknologi informasi, minta tolong. ”- Ia mengatakan untuk itu, tatanan kehidupan normal baru merupakan langkah strategis untuk mengatasi pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa menurut urutan kehidupan normal yang baru, adalah mungkin bagi orang untuk bertemu dan bercakap-cakap secara langsung sambil menjaga jarak, tanpa harus berjabat tangan dan saling menghormati kebiasaan sehat satu sama lain, karena sebenarnya tidak satu pun dari ini. Budaya asal kita, kita ingin kembali ke budaya asal kita, ”ujarnya. -Bapak Gus meyakini bahwa dalam kisruh bangsa yang menyelesaikan berbagai masalah, desa memiliki solusi uniknya sendiri. Adat istiadat dan budaya masing-masing desa dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi penduduk desa.

Tidak hanya itu, menurutnya pembangunan dan pelaksanaan desa juga dilandasi oleh akar budaya, hal ini dikarenakan adat dan budaya Indonesia yang bersumber dari hal tersebut. Desa.

“Saya selalu mengatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa tidak boleh dibedakan dari landasan dan budaya asli desa setempat,” tegas Gus Halim bahwa kongres budaya desa adalah Penggerak titik awal kebangkitan desa yang berakar budaya. Ia berharap kongres budaya desa bisa rutin diadakan setiap tahun. Ini menjadi awal dari kongres budaya desa beberapa tahun ke depan. “(*)

Tinggalkan Balasan