2020-12-15 |  Kilas Kementerian

JAKARTA, TRIBUNNEWS.COM-Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 turut memengaruhi perlambatan perdagangan komoditas budidaya, terutama dinamika harga. Salah satunya adalah produk lada.

Pada bulan Mei harga lada putih Rp. 46.360 per kg dan lada hitam Rp. 25.900 per kilogram. Meski sempat mencapai puncaknya pada 2016, harga lada masih mencapai Rp. 150.000 per kilogram.

Menanggapi situasi ini, Kasdi Subagyono, Direktur Bina Perkebunan Kementerian Pertanian, mengatakan perlu menelan produk lada. Dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2020).

Menurutnya, pemerintah juga telah memberikan bantuan fasilitas pengolahan lada. Selain itu, untuk standarisasi metode distribusi dan penjualan lada di sentra produksi, Anda juga dapat memanfaatkan sistem penerimaan gudang BAPPEBTI (BAPPEBTI) atau sistem penjualan ditangguhkan Badan Pengelola Perdagangan Berjangka Komoditas (BAPPEBTI). Pada musim panen stok mencukupi dan harga belum pulih. -Selain itu, Kasdi mengungkapkan pihaknya juga tengah berupaya keras untuk menaikkan harga lada dengan cara meningkatkan kualitas lada yang dihasilkan petani dan meningkatkan posisi tawar petani relatif terhadap pemangku kepentingan di industri. Industri pertanian. Ia mengatakan, tentu saja membangun institusi melalui kemitraan yang kuat dengan pelaku industri dan komersial. Oleh karena itu, lanjut Cassidy, pemerintah terus mendorong penyuluh untuk berperan memperkuat kelembagaan petani. Ia menambahkan, industri merupakan faktor penting dalam mendorong pembangunan sosial dan ekonomi petani. Dengan meningkatkan kualitas cabai, pemerintah terus mendorong produsen lada untuk menerapkan teknologi pertanian sesuai dengan standar Good Agricultural Practice (GAP).

Tinggalkan Balasan