2020-12-15 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Indonesia memiliki tiga keunggulan dalam lingkungan binaan dan kehutanan, yaitu moralitas, kecerdasan, dan kekuatan finansial. Hal itu ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada pertemuan virtual menteri lingkungan hidup negara-negara anggota G20 pada Rabu (9/9 2020). Kata Menteri Xiti. Pernyataan resmi tersebut merupakan kegiatan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan tata kelola hutan dan lahan di Indonesia.

Menteri Siti menyampaikan, perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Indonesia dilakukan dengan menginternalisasikan moralitas dan pengetahuan sebagai dasar pemecahan masalah. Dalam kesempatan ini, Menteri Siti menegaskan visi Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan lingkungan yang baik bagi warga. -Menteri Siti menambahkan bahwa sejak tahun 2011, pemerintah telah menghentikan sementara pemberian izin baru dan sekarang telah berhenti menggunakan izin baru untuk hutan dan lahan asli. gambut. Pemerintah juga telah mengambil langkah korektif untuk mengurangi laju deforestasi. Pemerintah Indonesia juga terus berupaya memperbaiki restorasi bentang alam hutan, mempercepat pelaksanaan rencana perhutanan sosial, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan konservasi. -Selanjutnya Menteri Siti menjelaskan bahwa peran badan usaha dalam restorasi lahan juga berhasil diperkuat. Dengan partisipasi masyarakat komersial, 102.000 hektar (Ha) lahan telah ditanami dan telah diperoleh izin, sedangkan 100.000 hingga 200.000 hektar ditanam setiap tahun dengan dana APBN. Kawasan mangrove juga merupakan bagian dari rencana restorasi. Target restorasi dimulai tahun 2020, dari total 3,3 juta hektar hutan mangrove Indonesia, terdapat 637.000 hektar kawasan mangrove utama. -Pemerintah Indonesia sangat serius dalam mendorong keberlanjutan dan perkembangan habitat. Keanekaragaman hayati dicapai dengan membangun koridor yang menghubungkan habitat yang tersebar. Sejak 2018, seluruh konsesi perkebunan kelapa sawit dan izin usaha telah dievaluasi. Sekitar 1,34 juta hektar lahan di dalam konsesi tersebut diidentifikasi sebagai hutan bernilai konservasi tinggi (HCVF) yang dapat dilestarikan.

Pemerintah Indonesia secara konsisten menerapkan kajian lingkungan strategis dan analisis dampak lingkungan dalam rencana penggunaan lahannya, misalnya dengan pengembangan penyimpanan makanan. Selain itu, kawasan lindung Ramsar dan situs lainnya yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia juga akan dipertahankan secara permanen. Demikian pula berdasarkan hasil penelitian lapangan, hutan pendidikan dan hutan kemasyarakatan di Indonesia mengembangkan dan meningkatkan best practice. -Menteri Siti menjelaskan bahwa kebijakan, langkah dan upaya pemerintah Indonesia telah membuahkan hasil dan mendapat pengakuan internasional. -Menteri Siti berterima kasih kepada pemerintah Norwegia dan Green Climate Fund (GCF) karena mengakui upaya Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dioksida yang disebabkan oleh deforestasi dan degradasi selama periode 2014-2017, dan menyetujui masing-masing 103,8 juta pembayaran oleh GCF dan GCF. Dolar. Norwegia telah menyediakan 56 juta dolar AS. Sebagai perbandingan, sejak 2019, Indonesia telah mengalokasikan anggaran tahunan sekitar 300 juta dolar AS untuk restorasi dan perlindungan lahan, terhitung sekitar 63% dari anggaran pendapatan dan pengeluaran tahunan negara. Untuk sektor kehutanan. — Menteri Siti selanjutnya menyatakan bahwa pemerintah Indonesiab berkomitmen untuk memerangi sampah laut dan mengelola terumbu karang secara berkelanjutan. Pada tahun 2019, Indonesia berhasil mengesahkan sejumlah resolusi dalam pertemuan UNEA-4, khususnya tentang pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia mengimplementasikan resolusi UNEA-4 dengan membentuk database nasional, regulasi dan jaringan untuk pengelolaan terumbu karang.

Terakhir, Menteri Siti meminta agar anggota G20 diperkuatSaat situasi global masih terpengaruh oleh pandemi COVID-19, jangan melakukan tindakan praktis untuk bekerjasama. Menteri Siti yakin melalui kerja sama yang erat, dunia dapat pulih lebih baik dari sebelumnya. Menteri Siti menyimpulkan: “Kita harus percaya dan percaya bahwa melalui kerja sama yang koheren, kita akan berhasil membangun kembali lingkungan global dan mencapai hasil yang lebih baik, dan kita dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.” Biro Inovasi (BLI), Agus Justianto (Agus Justianto) dan Direktur Biro Perubahan Iklim (PPI) Ruandha Agung Sugardiman, serta para ahli mewakili Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Internasional Laksmi Dhewanthi September 2020 Pertemuan yang diadakan dari tanggal 14 hingga 16 tersebut membahas tentang Komunikasi Pertemuan Lingkungan Kementerian G20, Inisiatif Pengurangan Degradasi Lahan dan Pengurangan Habitat Global, dan Platform Akselerator Litbang Terumbu Karang Global. Lingkungan negara-negara anggota G20. (*)

Tinggalkan Balasan