2020-12-03 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Indonesia memiliki tiga keunggulan dalam lingkungan binaan dan kehutanan, yaitu moralitas, kecerdasan, dan kekuatan finansial. Pada pertemuan virtual menteri lingkungan hidup negara-negara anggota G20 itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menegaskan hal tersebut pada Rabu (9/9/2020). – “Etika merupakan perwujudan misi konstitusi dan memperoleh kecerdasan. Berbagai kerjasama teknis dengan masyarakat internasional dalam pengelolaan lingkungan dan hutan telah dilakukan. Kekuatan pendanaan bersumber dari prioritas negara dalam alokasi sumber pendanaan dan sumber pendanaan. Negara bekerja sama. Dalam keterangan resminya, bertujuan untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lahan Indonesia.

Menteri Siti menyampaikan, perbaikan tata kelola hutan dan lahan Indonesia dicapai dengan menginternalisasi moral dan kekuatan intelektual. Dalam kesempatan ini, Menteri Siti menegaskan visi Presiden Joko Widodo untuk memastikan lingkungan yang baik bagi warga negara – Menteri Siti menambahkan, sejak tahun 2011, pemerintah telah menangguhkan pemberian izin baru dan kini telah menangguhkan izin baru untuk pemanfaatan hutan alam. Dan lahan gambut. Tindakan korektif juga telah dilakukan untuk mengurangi laju deforestasi. Pemerintah Indonesia juga terus berupaya memperbaiki restorasi bentang alam hutan, mempercepat pelaksanaan program perhutanan sosial, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan konservasi. -Selanjutnya, Menteri Siti menjelaskan Peran badan usaha dalam restorasi lahan juga berhasil diperkuat.Dengan partisipasi masyarakat komersial, 102.000 hektar (Ha) lahan telah ditanami dan telah diperoleh izin, dan 100.000 hingga 200.000 hektar ditanam setiap tahun dengan dana APBN. Kawasan mangrove juga merupakan bagian dari rencana restorasi.Tujuan restorasi dimulai dari tahun 2020, di antara 3,3 juta hektar mangrove di Indonesia terdapat 637.000 hektar kawasan mangrove utama.

Pemerintah Indonesia sangat mementingkan untuk mendorong kelestarian habitat Dan realisasi keanekaragaman hayati melalui pembentukan koridor yang menghubungkan habitat yang tersebar.Sejak 2018, seluruh konsesi dan izin perusahaan perkebunan kelapa sawit telah dievaluasi.Sekitar 1,34 juta hektar lahan di dalam konsesi telah teridentifikasi tersedia. Hutan Bernilai Konservasi Tinggi yang Dilindungi (HCVF).

Pemerintah Indonesia juga menerapkan penilaian lingkungan strategis dan analisis dampak lingkungan dalam rencana penggunaan lahannya, seperti dengan pengembangan tempat penyimpanan pangan.Selain itu, telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia, Kawasan lindung Ramsar dan situs lainnya juga akan dipertahankan secara permanen. Demikian pula berdasarkan hasil studi lapangan, hutan pendidikan dan hutan kemasyarakatan di Indonesia dikembangkan dan ditingkatkan praktik-praktik terbaiknya. -Menteri Siti menjelaskan, Kebijakan, langkah dan upaya pemerintah Indonesia telah membuahkan hasil dan telah diakui secara internasional. -Menteri Siti mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Norwegia dan Green Climate Fund (GCF) yang telah mengakui upaya Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dioksida akibat deforestasi dan degradasi selama periode 2014-2017 Atas upaya yang dilakukan, GCF dan Amerika Serikat menyetujui pembayaran berbasis hasil sebesar US $ 103,8 juta dan Norwegia menjadi US $ 56 juta.Sebagai perbandingan, Indonesia telah mengalokasikan sekitar US $ 300 juta untuk restorasi dan perlindungan lahan sejak 2019. Anggaran tahunan menyumbang sekitar 63% dari anggaran tahunan nasional sektor kehutanan. — Menteri Siti kemudian mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia b berkomitmen dan bekerja keras untuk menangani sampah laut Memerangi dan mengelola terumbu karang secara berkelanjutan. Pada tahun 2019, Indonesia berhasil mengesahkan sejumlah resolusi dalam pertemuan UNEA-4, khususnya tentang pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia mengimplementasikan resolusi UNEA-4 dengan membentuk database nasional, regulasi dan jaringan pengelolaan terumbu karang.

Terakhir, Menteri Siti meminta agar anggota G20 diperkuatSaat pandemi COVID-19 masih mempengaruhi situasi global, jangan berkolaborasi dalam tindakan nyata. Menteri Siti yakin melalui kerja sama yang erat, dunia dapat pulih lebih baik dari sebelumnya. Menteri Siti menyimpulkan: “Kita harus percaya dan percaya bahwa melalui kerja sama yang erat, kita akan berhasil membangun kembali lingkungan global dan mencapai hasil yang lebih baik, dan kita dapat mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.”

Sebelumnya, Departemen Litbang bertanggung jawab Staf ahli Biro Inovasi dan Inovasi (ALI Justianto) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Direktur Biro Perubahan Iklim (PPI) Ruandha Agung Sugardiman dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Internasional Laksmi Dhewanthi mewakili Indonesia pada Konferensi Wakil Menteri RI September 2020 Dari tanggal 14 hingga 16, pertemuan membahas Komunikasi Menteri Lingkungan Hidup, “Inisiatif Global untuk Mengurangi Degradasi Lahan dan Pengurangan Habitat” dan “Platform Global untuk Mempercepat Penelitian dan Pengembangan Terumbu Karang”. Perwakilan lingkungan negara anggota G20. (*)

Tinggalkan Balasan