2020-12-02 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Lemahnya perekonomian nasional akibat pandemi Covid-19 belum memundurkan sektor pertanian. Meningkat 24,10% (dari m ke m) atau 11,17% (dari y ke y). Dibandingkan dengan minyak dan gas, pengolahan dan pertambangan, pertumbuhan ini bahkan paling signifikan.

Menurut Kuntoro Boga Andri, Kepala Humas dan Kantor Pers, pertumbuhan tersebut menjadi bukti kuat bahwa sektor pertanian merupakan sektor strategis dalam pembangunan perekonomian nasional. Quintoro mengatakan, pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh subsektor hortikultura dan perkebunan. Kedua subsektor tersebut telah memberikan kontribusi yang cukup besar, meliputi jamu dan rempah aromatik yang saat ini dibutuhkan oleh dunia internasional. Ia mengatakan bahwa bulan ini sangat menggembirakan dan menghirup udara segar dalam kondisi saat ini.

Perlu diketahui bahwa surplus neraca perdagangan pada Juli 2020 sebesar USD 3,26 miliar. Hal ini dikarenakan ekspor meningkat sejak Juni, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan impor pertanian turun 14,33%, sedangkan impor turun 2,73%.

Pertanian merupakan salah satu industri yang dapat membuka banyak lapangan pekerjaan karena hal tersebut. Industri ini memiliki peluang kerja yang luas. Pasar .

Selain itu, menurut dia, Indonesia merupakan negara agraris dengan sinar matahari yang melimpah dan kebutuhan air yang cukup. Ekspor hasil pertanian menunjukkan bahwa kinerja sektor pertanian masih berjalan normal, dan produksi dapat terus berjalan meski dalam kondisi krisis, kata SYL. Dari sisi ekspor, Quintoro juga menyatakan bahwa upah pekerja pertanian meningkat 0,20% pada Juli 2020. Peningkatan ini disebabkan panen raya pada saat musim panen. 503. Sementara itu, upah riil buruh tani meningkat 0,32% menjadi Rp 52.549. Ia mengatakan hal itu akibat deflasi di pedesaan. Ah, buruh tani pada Juli 2020 0,13% karena bulan itu deflasi. Akibatnya, upah riil pekerja pertanian meningkat sekitar 0,32%. Dia menyimpulkan: 415 sampai Rp85.565 “. (*)

Tinggalkan Balasan