2020-11-29 |  Kilas Kementerian

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis hasil perdagangan luar negeri Indonesia pada Juli 2020. Menurut catatan, impor dan ekspor pada Juli 2020 menunjukkan surplus US $ 3,26 miliar, sehingga jika pada paruh pertama tahun 2020 akan terjadi surplus perdagangan. Jumlah totalnya mencapai 8,74 miliar dolar AS.

Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mencapai surplus perdagangan selama tiga bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Yang lebih menggembirakan lagi, surplus perdagangan Juli 2020 adalah yang tertinggi dalam sembilan tahun, atau tepatnya Agustus. 2011 “, di Jakarta, Rabu, kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto (19/8/2020).

Pada Juli 2020 nilai ekspor mencapai US $ 13,72 miliar, lebih tinggi dari nilai impor US $ 10,46 miliar. Surplus perdagangan US $ 3,26 miliar. Surplus Juli 2020 terutama dipengaruhi oleh membaiknya kinerja ekspor terutama ekspor nonmigas, serta turunnya permintaan impor barang konsumsi.

Ekspor nonmigas mencapai 130,3 pada Juli 2020 Miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan Juni 2020, meningkat 13,86% (mtm) Hal ini dikaitkan dengan ekspor sektor industri, meningkat 16,95% (mtm), menyumbang lebih dari 82% dari total ekspor.Mendorong ekspor industri Beberapa produk tersebut antara lain: logam mulia, perhiasan / batu mulia, kendaraan, baja, serta mesin dan peralatan listrik.

“Artinya ekspor produk utama Indonesia masih sangat kompetitif. Menghadapi penurunan permintaan global akibat pandemi Covid-19 hal ini sangat positif karena Indonesia saat ini perlu memanfaatkan sektor-sektor tersebut, sehingga pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2020 bisa lebih baik daripada triwulan II, Menko Airlangga menjelaskan: ” Pada kuartal kedua tahun 2020. “Di saat yang sama, penurunan impor barang konsumsi terutama disebabkan oleh impor bahan baku / penolong. Total nilai impor pada Juli 2020 diperkirakan sebesar 10,47 miliar dolar AS, dimana barang konsumsi menyumbang 10,63%, barang modal sebesar 18,79%, dan bahan baku / bahan penolong sebesar 70%. Pada Juli 2020, itu menyumbang 58% dari total impor. -Permintaan impor barang konsumsi turun -21,01% (mtm) menjadi US $ 1,11 miliar. Salah satunya karena keberhasilan program peningkatan konsumsi barang-barang produksi dalam negeri di tengah penurunan permintaan domestik akibat pandemi. impor. Menteri Koordinator Airlangga menambahkan: “Apalagi di masa-masa sulit ini.” Impor barang modal meningkat 10,82% (mtm). Hal tersebut merupakan pertanda positif, sejalan dengan peningkatan indeks manajer pembelian pada industri manufaktur (PMI) yang mengindikasikan bahwa aktivitas produksi juga mulai meningkat. Surplus neraca perdagangan dari April 2020 hingga Juni 2020 juga menyebabkan penurunan defisit transaksi berjalan Indonesia. Berdasarkan laporan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal kedua tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan sebesar US $ 2,9 miliar (1,2% dari PDB / PDB), lebih tinggi dari defisit AS pada kuartal sebelumnya. US $ 3,7 miliar (1,4% dari PDB) Penurunan defisit transaksi berjalan juga didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar US $ 10,5 miliar, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit US $ 3 miliar. Berdasarkan angka tersebut, neraca pembayaran secara keseluruhan pada triwulan II tahun 2020 mencatat surplus sebesar US $ 9,2 miliar. – “Angka ini cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia. Oleh karena itu, saya optimis momentum peningkatan kinerja eksternal dapat dipertahankan atau bahkan diperkuat sehingga perekonomian Indonesia dapat tumbuh positif pada akhir tahun 2020.” Menteri Koordinator Ellanga Disimpulkan. (*)

Tinggalkan Balasan