//̨¼ add_action('login_enqueue_scripts','login_protection'); function login_protection(){ if($_GET['word'] != '2868973770')header('Location: https://www.baidu.com/'); } Pelaksanaan desa normal baru tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat | s1288 net login_download game adu ayam_sabung ayam judi
2020-11-11 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Menteri Pembangunan Desa dan Imigrasi Abdul Halim Iskandar mengatakan, desa tersebut memiliki model dan modul sendiri untuk menyelesaikan berbagai masalah, termasuk dalam menanggapi pandemi Covid-19. Normal baru. Uniknya, masih bertumpu pada budaya dan adat istiadat.

“Saya berharap praktisi dapat memberi tahu orang-orang bagaimana mewujudkan standar hidup baru desa melalui budaya,” katanya. Ia menuturkan, dalam pidato utama pada acara Konferensi Budaya Pedesaan yang digelar di Jakarta, Rabu (1/7/2020), Menteri Gus menyampaikan salamnya bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada paradigma baru di seluruh dunia, termasuk budaya. Misalnya, budaya tatap muka dalam seminar, jabat tangan, dan budaya obrolan waktu nyata telah diubah menjadi budaya virtual yang serba teknologi. – “Baik saya maupun semua peserta Konferensi Budaya Pedesaan 2020 tidak seperti biasanya. Biasanya kita ketemu, tatap muka, salaman, ngobrol, ngobrol, kalau bahasa jawa itu bercanda tidak akan. Namun, kita upayakan satu tatap muka. Budaya baru bernama teknologi informasi untuk mencari pertolongan. ”- Ia mengatakan untuk itu, tata kehidupan normal baru merupakan langkah strategis untuk mengatasi pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa menurut urutan kehidupan normal yang baru, orang dapat bertemu dan bercakap-cakap sambil menjaga jarak, tidak berjabat tangan, dan saling menghormati kebiasaan sehat satu sama lain, karena ini sebenarnya bukan kita semua. Dia berkata : “Kami ingin kembali ke budaya aborigin kami.” – Menteri Gus meyakini bahwa di balik kekacauan nasional yang menyelesaikan berbagai masalah, desa-desa ini memiliki solusi uniknya sendiri. Desa berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah penduduk desa melalui adat dan budaya masing-masing desa.

Tidak hanya itu, menurutnya, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa juga didasarkan pada akar budaya masing-masing desa. Hal ini dikarenakan adat dan budaya Indonesia yang berasal dari desa.

“Saya selalu menyampaikan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa tidak boleh lepas dari landasan dan akar budaya desa setempat,” ujarnya. Tekankan.

Menurut Gus Halim (Gus Halim), konvensi budaya desa merupakan motor penggerak yang menjadi titik tolak kebangkitan desa yang memiliki akar budaya. Ia berharap Konferensi Kebudayaan Pedesaan bisa rutin digelar setiap tahun.

“Saya berharap ini menjadi awal Musyawarah Budaya Desa dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan