2020-11-06 |  Kilas Kementerian

JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Menteri Desa, Daerah Tertinggal, dan Imigrasi Abdul Halim Iskandar (Abdul Halim Iskandar) bertempat di Forum Pendidikan Tinggi Pedesaan (Pertides) di Jakarta, Selasa (6/2/2020). Upacara halalbilhalal virtual. Gus memanggilnya menteri halalbilhalal, dan dia meminta universitas anggota Pertides untuk membantu desa melaksanakan rencana pembangunan lima sampai enam tahun. Masalah dan kebutuhan desa.

“Jika kepala desa, perangkat desa dan masyarakat tidak memahami permasalahan yang dihadapi desa, maka kita tidak akan dapat membahas permasalahan tersebut. Lalu bagaimana menyelesaikannya dan kemudian bagaimana menyelesaikannya? Katanya:“ Mewujudkan sistematisasi melalui solusi yang berbasis potensi desa . -Menteri Gus mengatakan bahwa masih banyak warga desa yang belum mengetahui permasalahan yang ada di desa tempat mereka tinggal. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan penyadaran agar seluruh masyarakat dapat mengetahui permasalahan yang ada di desanya. Saat ini Kementerian Perdesaan, Pembangunan Daerah Miskin dan Keimigrasian (Kemendes PDTT) telah merumuskan peraturan tentang prioritas pemanfaatan desa oleh Menteri Perdesaan, Pembangunan Daerah Miskin dan Keimigrasian (izin PDTT). Setelah mendapat dana pada tahun 2021, ingin menggunakan dana desa Ada formula baru urutan prioritas Indonesia untuk memenuhi kebutuhan 74.953 desa di Indonesia.Namun di sisi lain, rambu-rambu juga diperlukan agar penggunaan dana desa tidak bias.Menurutnya, Pertides akan membantu mempercepat daerah semaksimal mungkin. Kemajuan khususnya di daerah yang jauh dari perkotaan. Dalam hal ini, sambungnya, pihak universitas akan mendapatkan manfaat dari “Program Kampung Kampus Merdeka”. Dalam program ini mahasiswa akan berkesempatan untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan desa. Berikan kontribusi.

“Tentu saja, kesempatan ini harus digunakan semaksimal mungkin. Mahasiswa dapat berinteraksi dan berkomunikasi tanpa menunggu kelulusan. Dia menyatakan: “Ini membantu menyebarkan pengetahuan mereka ke komunitas pedesaan.” (*)

Tinggalkan Balasan