2020-10-29 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Presiden Republik Indonesia Jokowi mengimbau masyarakat Indonesia menerapkan budaya no food waste (sisa makanan). Presiden mengatakan bahwa jika komunitas memperkuat budaya baru, itu adalah pemahaman yang lebih baik tentang budaya baru, dan itu cara yang lebih baik, dan itu adalah menghargai setiap makanan yang Anda hargai. Selasa lalu (15 September 2020) “Peringatan Ancaman Krisis Pangan dari FAO (Food and Agriculture Organization)” diumumkan di Bogor. Jika dikonversi menjadi rupee, setiap 1,3 juta ton limbah makanan akan menghasilkan 27 triliun rupee. Ironisnya, 19,6 juta penduduk Indonesia masih kekurangan gizi. Jika mengkonsumsi 27 triliun, bisa memberi makan 28 juta orang setiap tahun. -Kuntoro Boga Andri, Direktur Biro Humas dan Penerangan Kementerian Pertanian, mengatakan Kementerian Pertanian selama ini menghindari kampanye ini untuk menghindari era pemborosan pangan, sehingga ajakan presiden akan terus dikuatkan di masyarakat.

Menurut Kuntoro, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo kerap menegaskan bahwa generasi muda harus memahami proses pengolahan pangan dari awal hingga disajikan di atas meja.

Dengan demikian, pembangunan dapat mewujudkan cita-cita untuk memberikan ketahanan pangan bagi generasi muda berdasarkan pola makan sehat, termasuk mendukung pembangunan nasional.

“Kami berharap generasi milenial juga bisa memahami bahwa ada banyak waktu bagi Cantro untuk mengatakan:” Petani mencari makanan, dan masih banyak orang yang membutuhkan makanan yang layak. Jadi mari kita terbiasa. Membuang dan membuang makanan, kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan. “

Tinggalkan Balasan