2020-10-26 |  Kilas Kementerian

TRIBUNNEWS.COM-Kementerian Sosial terus mematangkan penambahan pasien tuberkulosis (TBC) sebagai komponen bantuan sosial dalam program Keluarga Harapan (PKH). Saat sudah dewasa, ia akan mendapat manfaat dari bantuan tuberkulosis. -Menteri Sosial Juliari P Batubara mengatakan, Kementerian Sosial saat ini sedang berkoordinasi erat dengan departemen terkait, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Tujuannya untuk mematangkan alokasi anggaran untuk PKH bansos. Dalam keterangannya, Menteri Sosial Jakarta secara tegas menyatakan: “Jika bantuan diberikan, baik untuk biaya pemeriksaan kesehatan, pengobatan, pengobatan korban yang diisolasi, pembelian obat-obatan, dll.” (18/9/2020) .

sedang dalam proses Tujuh aspek program bansos PKH yang telah dibantu yaitu ibu hamil, bayi, siswa sekolah menengah pertama, lansia, dan penyandang cacat berat. Kata Menteri Sosial. “Tidak ada pertimbangan untuk pasien tuberkulosis.” Tahun ini, kata Mensos.

Namun, Kementerian Sosial akan mengunci 9.000 pasien tuberkulosis. Indeks bantuan PKH untuk pertandingan kedelapan adalah Rp 3 juta per tahun. Menteri Sosial mencontohkan, penambahan penderita tuberkulosis ke komponen tambahan ini merupakan instruksi dari Presiden Joko Widodo. Mengikutsertakan penderita tuberkulosis di bagian PKH tidak lepas dari banyaknya penderita di Indonesia. Menurut data, ada 1.020.000 penderita TB di Indonesia. Tentu saja angka ini mengkhawatirkan jika terus meningkat. Menteri Sosial mengatakan: “Indonesia ketiga di dunia.” Namun, TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Perhatikan bahwa pasien harus minum obat secara teratur, yang berarti minum obat selama tiga sampai lima bulan. Ini harus menjadi pemeriksaan rutin tiga kali seminggu. Jika Anda melewatkannya sekali, Anda harus mengulanginya.

Sebagai rencana prioritas nasional, Kementerian Sosial telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp30,4 triliun untuk program jaminan sosial keluarga dengan target 10 juta. KPM PKH.

Tinggalkan Balasan